Minggu, 27 November 2011

Pengharapan di ujung senja

Aku berlindung kepada Allah, dari rasa cinta yang belum jelas takdirnya.
Aku berlindung kepada Allah, dari rasa khawatir akan hilangnya cinta yang telah terbina.
Aku berlindung kepada Allah, dari hati yang menolak takdir yang telah Dia tentukan.
 
Bagaimanapun, aku hanyalah makhluk tak berdaya, yang tak dapat menciptakan takdirku sendiri. 
Aku yang tak kuasa mempertahankan rencana-rencana indah yang telah dirangkai sedemikian rupa.
Aku yang tak dapat bersabar atas cobaan yang harus dilalui dengan ikhlas dan lapang dada.
Pengharapanku hanya tertuju Pada-Nya, Sang Maha Pemberi Harapan, Maha Baik.
Tak ingin ku menggantungkan harapan pada makhluk-Nya, karena hanya harapan abstrak yang diberikan.

Tak ada seorangpun yang tau persis bagaimana keadaan hati kecuali Dia, hanya Dia.
Tak ada satupun yang dapat mengerti apa yang aku butuhkan kecuali Dia.
Dia tahu apa yang aku butuhkan, dan Dia akan memberiku apa yang aku butuhkan.
Karena Dia Maha Sempurna dan Maha Memiliki Segalanya.

Wahai Dzat yang jiwaku berada di bawah Genggaman-Mu,
Wahai Dzat yang hatiku berada di bawah Penguasaan-Mu,
Wahai Dzat yang hidupku berada di bawah Naungan-Mu,
Aku berlindung Pada-Mu dari segala bentuk kemunafikan diriku..


Bandung, di batas senja awal permulaan tahun 1433 H
dengan penuh pengharapan
D'Mizan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar