Minggu, 27 November 2011

Ketika Aku Bersedih

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa sedangkan ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.
Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa tidak dinikmati saja sedangkan ratap tangis tidak akan mengubah apa-apa.
Jikalah luka kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa sedangkan ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama
Jikalah benci dan marah menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti diumbar sepuas rasa sedangkan menahan diri adalah lebih berpahala.
Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya sedangkan taubat itu lebih utama.
Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhrinya
maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri sedangkan kedermawanan justru akan melipat gandakannya.
Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti membusung dada sendangkan dengannya manusia diminta memimpin dunia.
Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama sedangkan memberi akan lebih banyak memiliki arti.
Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti dirasakan sendiri sedangkan berbagi akan membuatnya lebih bermakna.
Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhrinya
maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka sedangkan begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Suatu hari nanti, saat semua telah menjadi masa lalu, aku ingin ada diantara mereka yang bertelekan di atas permadani sambil bercengkraman dengan tetangganya, saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu hingga mereka mendapat anugerah itu.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar